NUANSA SUFISTIK NADZOM ALFIYAH


وَ غَيْرُهُ مَعْرِفَةٌ كَهُمْ وَ ذِى # وَ هِنْدَ وَ ابْنِيْ وَ الْغُلَامِ وَ الَّذِي
Selain isim nakiroh, disebut sebagai isim ma’rifat, dan isim ma’rifat itu ada 6 macam, yaitu:
1. Isim dlomir
2. Isim isyaroh
3. Isim 'alam
4. Isim yang dimudlofkan pada salah satu isim ma’rifat yang telah disebutkan
5. Isim yang dima’rifatkan dengan ال 
6. Isim maushul.

Syair itu terkesan hanya menjelaskan tentang isim2 ma'rifat...
Padahal dibalik syair itu, Imam Ibnu Malik ingin menjelaskan tentang enam tingkatan untuk menuju maqom ma'rifat billah (maqom tertinggi di sisi Allah).
Enam tingkatan itu adalah :
1. Seorang salik harus mempunyai sifat seperti lafadz هُمْ (isim dhomir).
Maksudnya si salik harus bisa menata hatinya (dhomir) terlebih dahulu.

2. Setelah salik (pencari makrifat) mampu menata hatinya, ia kemudian harus seperti lafadz ذِى (isim isyaroh).
Maksudnya ia harus membuktikan keyakinan dalam hatinya tersebut dengan isyaroh. Isyaroh terhadap Allah swt cukup dengan kita melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

3. Setelah salik membuktikan keyakinannya yang terpatri dalam hati dengan isyaroh atau perbuatan (beribadah), maka selanjutnya yang harus ditempuh oleh salik adalah harus seperti lafadz هِنْدَ (alam asma/jenis).
Maksudnya dalam proses menuju tingkatan berikutnya (alam asma/jenis), si salik harus mencari seorang mursyid untuk membimbingnya dalam penyerahan diri kepada Allah, karena sifat alami manusia yang mudah lupa dan melakukan kesalahan sehingga mengharuskan manusia harus mempunyai pendamping.

4. Tingkatan ke empat yang harus dilalui salik adalah seperti lafadz ابْنِيْ (isim yang dimudhofkan).
Maksudnya seorang salik harus bisa me"mudhof"kan dan menyandarkan dirinya bahkan hatinya dengan sepenuhnya kepada Allah dalam setiap waktu dan setiap perbuatan.

5. Tingkatan selanjutnya yang harus ditempuh oleh si salik dalam mencapai maqom ma'rifat adalah si salik harus mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding dengan orang2 awam pada umumnya, salik harus bisa seperti lafadz الْغُلَامِ (al ta’rif), yakni "al" yang mampu memakrifatkan isim nakiroh.
Maksudnya adalah keistimewaan yang harus dimiliki oleh salik tercermin dalam usaha2 pendekatan diri kepada Allah.

6. Pada tingkatan yang terakhir ini, seorang salik harus mampu seperti lafadz الَّذِي (isim mausul).
Maksudnya si salik harus mampu menghadirkan Allah dalam setiap amal ibadahnya, pikiran dan jiwanya harus bisa terpusat pada satu titik, yaitu hanya pada Allah pencipta jagad, saat ia melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupannya, ia harus mampu wusul dengan Allah, merasakan kehadiran Allah dalam setiap pekerjaannya.

Wallahu a'lam..
Semoga kita selalu dalam naungan ridlo ALLAH dan ditempatkan ALLAH pada maqom yang mulya dihadapanNYA dan makhluqNYA.
آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَ رِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ

posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Followers


Recent Comments